“Tetap Setia Walau Tidak Selalu Dimengerti”
Kis 16:1–10 Mzm 100. Yoh 15:18–21
Hari ini Sabda Tuhan membawa kita masuk ke dalam kenyataan panggilan yang tidak selalu mudah. Yesus berkata:
“Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih
dahulu membenci Aku.”
Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk
menguatkan hati para murid. Mengikuti Kristus berarti berjalan bersama-Nya:
kadang diterima, kadang ditolak; kadang dipuji, kadang dilukai.
Dalam Bacaan Pertama, Paulus terus berjalan mewartakan
Injil, meskipun jalannya tidak selalu sesuai rencananya sendiri. Roh Kudus
membimbing langkahnya, bahkan ketika ia tidak mengerti arah yang sedang dibuka
Tuhan.
Begitu pula Santo Antonius Maria Claret. Hidupnya bukan
jalan yang mulus. Ia berpindah dari satu misi ke misi lain, menghadapi
penolakan, fitnah, tekanan politik, dan kelelahan batin.
Namun di tengah semuanya, Claret tetap mendengarkan suara
Tuhan dalam doa.
Suatu hari ia bertanya kepada Yesus:
“Apa yang Engkau kehendaki dariku, Tuhan?”
Dan Tuhan menjawab:
“Engkau akan mempunyai pekerjaan. Antonius, saatmu belum
tiba.”
Betapa dalam jawaban ini. Kadang kita ingin segera
melihat hasil pelayanan, ingin dimengerti, dihargai, atau merasa berhasil.
Tetapi Tuhan sering membawa kita masuk ke dalam proses
sunyi: menunggu, dimurnikan, dibentuk perlahan.
Claret kemudian menulis:
“Aku seperti tanah. Tanah diinjak-injak dan diam.”
Inilah spiritualitas seorang murid: bukan keras
mempertahankan diri, tetapi lembut di tangan Tuhan.
Tanah yang baik:
rela dibajak,
rela dihancurkan,
rela disiram, agar akhirnya menghasilkan buah.
Demikian pula hati kita.
Kadang Tuhan membiarkan:
kita tidak dipahami,
pelayanan terasa berat,
doa terasa kering,
hati terasa sepi, agar kita belajar bahwa rahmat Tuhanlah
yang membuat hidup berbuah.
“Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan
kita.”
Artinya, jelaslah bahwa: kita bukan milik dunia, kita
milik Tuhan.
Karena itu jangan takut jika kesetiaanmu tidak selalu
dimengerti manusia. Yang terpenting bukan apakah dunia memuji kita, tetapi
apakah hati kita tetap tinggal dalam kasih Kristus.
Ketika aku merasa lelah, tidak dihargai, atau mengalami
kekeringan batin, apakah aku masih mau tetap tinggal setia di hadapan Tuhan?
Doa Tanur Hati
Tuhan Yesus,
ajarilah aku menjadi seperti tanah yang lembut di
tangan-Mu.
Ketika aku terluka, jangan biarkan hatiku menjadi keras.
Ketika aku tidak dimengerti, ajarilah aku tetap tenang.
Ketika aku merasa jauh dari-Mu, siramilah jiwaku dengan
rahmat-Mu.
Bentuklah aku perlahan dalam Tanur Hati-Mu dan Hati Tak
Bernoda Maria,
agar hidupku menghasilkan buah kasih, kesetiaan, dan
kelembutan. Engkau yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa... Amin.
Inspirasi Tanur Hari Ini:
“Rahmat Tuhan bekerja paling dalam justru ketika hati
kita sedang dimurnikan.”
Salve... Shalom..